Stok Bahan Baku Kritis, Perajin Eceng Gondok di Aceh Barat Terpaksa Tolak Pesanan Besar

oleh -95 Dilihat
oleh

Afni saat menata kerajinan di Desa Kubu, Kecamatan Arongan Lambalek, Aceh Barat, Rabu (9/9/2026).(Meulabohnews)

Salah seorang perajin eceng gondok lokal, Afni, mengungkapkan bahwa ketersediaan bahan baku di area sekitar Kecamatan Arongan Lambalek kini sudah habis total. Tanaman eceng gondok di wilayah tersebut sulit tumbuh optimal akibat siklus tumbuh mati yang berulang, sehingga ukurannya cenderung pendek dan tidak bisa diproses menjadi bahan kerajinan.

Aceh Barat (Meulabohnews) – Tingginya permintaan pasar terhadap produk kerajinan eceng gondok belum berbanding lurus dengan ketersediaan bahan baku. Para perajin di Kabupaten Aceh Barat saat ini harus membatasi produksi dan enggan mengambil pesanan dalam skala besar akibat kelangkaan bahan baku yang memenuhi standar kualitas.

​Salah seorang perajin Eceng Gondok Kreatif Kubu, Afni mengungkapkan bahwa ketersediaan bahan baku di area sekitar Kecamatan Arongan Lambalek kini sudah habis total. Tanaman eceng gondok di wilayah tersebut sulit tumbuh optimal akibat siklus tumbuh mati yang berulang, sehingga ukurannya cenderung pendek dan tidak bisa diproses menjadi bahan kerajinan.

” Kita saat ini kesulitan mendapatkan bahan baku di sekitar desa akibat Pengaruh siklus tumbuh dan faktor alam, ” ujar Afni di Desa Kubu, Kecamatan Arongan Lambalek, Aceh Barat, Rabu (9/9/2026).

Guna menjaga kelangsungan produksi, para perajin terpaksa berburu bahan baku ke wilayah lain, seperti kawasan Kecamatan Johan Pahlawan, di Desa Suak Raya di dekat pusat kota hingga menyeberang ke Kabupaten Nagan Raya. 

Namun, meski eceng gondok masih terlihat tumbuh di beberapa lokasi, mayoritas tanaman tersebut tidak dapat dimanfaatkan karena tidak memenuhi kriteria ukuran. 

Untuk dapat diolah menjadi aneka kerajinan, dibutuhkan batang eceng gondok dengan panjang ideal sekitar 50 hingga 60 sentimeter.

” Untuk kriteria ukuran panjang sekitar 50 cm baru bisa kita buatkan satu kerajinan agar minimal penyambungan sehingga lebih rapi dan estetik hasil kerajinan, ” ujar Afni.

Kondisi stok yang minim ini membuat para perajin serba salah. Di satu sisi, potensi dan permintaan pasar sangat besar, namun di sisi lain mereka khawatir tidak mampu menyelesaikan pesanan jika nekat menerima orderan dalam jumlah banyak.

Saat ini berbagai inovasi terus dikembangkan agar menarik minat pembeli seperti tirai pemisah ruangan, tas, tempat tisue, tikar, kursi, cermin, tatakan gelas dan piring serta anekan pesanan lain sesuai permintaan konsumen.

” Untuk permintaan kerajinan dari bahan eceng gondok ini sangat banyak beraneka jenis pesanan yang bisa buat sesuai pesanan konsumen, ” ujar Afni.

Keterbatasan bahan baku yang berkepanjangan ini dikhawatirkan dapat menurunkan volume penjualan serta mengancam keberlangsungan usaha kerajinan eceng gondok di wilayah tersebut.[redaksi]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.