Dorongan tersebut disampaikan Datuk Yahaya saat menerima dan menjamu delegasi Aceh Barat di Pejabat Pentadbiran Kuala Nerus, Kuala Terengganu, Malaysia, Kamis (10/9/2026), di sela-sela pelaksanaan Southeast Olympiad Championship and Sustainable Tourism Workshop 2026.
Malaysia (Meulabohnews) – Profesor Senior Universiti Sultan Zainal Abidin (UniSZA), Prof. Datuk Dr. Yahaya Ibrahim, mendorong para guru dan tenaga akademik asal Aceh Barat untuk berani meningkatkan kapasitas pendidikan hingga ke jenjang doktoral.
Dorongan tersebut disampaikan Datuk Yahaya saat menerima dan menjamu delegasi Aceh Barat di Pejabat Pentadbiran Kuala Nerus, Kuala Terengganu, Malaysia, Kamis (10/9/2026), di sela-sela pelaksanaan Southeast Olympiad Championship and Sustainable Tourism Workshop 2026.
Datuk Yahaya yang pernah menjabat sebagai Naib Canselor UniSZA periode 2013–2015 memberikan perhatian khusus terhadap pengembangan sumber daya manusia Aceh Barat. Ia mengaku memiliki kedekatan emosional dengan Aceh Barat dan menganggap daerah tersebut sebagai bagian dari kampung halamannya.
“Bagi saya, Aceh Barat adalah kampung saya. Saya sudah lama memiliki hubungan dan kedekatan dengan masyarakat Aceh Barat, terutama sejak Aceh Barat dipimpin oleh H. T. Alaidinsyah (Haji Tito),” ujar Datuk Yahaya.
Menurutnya, keberanian untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi harus terus ditanamkan kepada generasi muda Aceh, khususnya para guru, tenaga pengajar dan dosen.
Ia menegaskan bahwa pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun kemajuan sebuah daerah. Karena itu, peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan tinggi harus menjadi perhatian bersama.
“Untuk memajukan sebuah daerah, maka sektor pendidikan adalah hal utama yang perlu ditingkatkan,” tegasnya.
Datuk Yahaya juga memotivasi para pendamping delegasi Aceh Barat agar tidak menjadikan pendidikan doktoral sebagai sesuatu yang sulit atau hanya diperuntukkan bagi mereka yang dianggap paling cerdas.
Menurutnya, keberhasilan menyelesaikan pendidikan Ph.D tidak semata-mata ditentukan oleh kecerdasan akademik, tetapi juga oleh kecerdikan, ketekunan, keberanian dan kemauan untuk terus belajar.
“Kunci sukses pendidikan tinggi itu adalah rajin, bukan cerdas,” ungkapnya.
Pesan tersebut disampaikan dengan penuh semangat, sekaligus menjadi motivasi bagi para pendamping delegasi Aceh Barat yang hadir dalam pertemuan tersebut.
Datuk Yahaya berharap ke depan Meulaboh dan Aceh Barat dapat semakin maju, terutama dengan keberadaan sejumlah perguruan tinggi negeri yang menjadi modal penting dalam membangun ekosistem pendidikan di daerah.
Ia membandingkan kondisi tersebut dengan lingkungan akademik di Malaysia yang menurutnya menempatkan kualifikasi doktor sebagai bagian penting dalam penguatan kualitas perguruan tinggi.
“Disini hampir semua kampus, tenaga pengajarnya 100 persen bergelar Doktor. Kalau belum Doktor, malu berjalan di kampus,” ujarnya disambut suasana g3lak tawa penuh keakraban.
Sambil melirik Aduwina Pakeh, selaku Ketua Delegasi Aceh Barat, Datuk Yahaya bahkan mendorong agar para pendamping dan akademisi Aceh Barat segera mengambil langkah untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang doktoral.
Dorongan tersebut bukan sekadar ajakan untuk meraih gelar akademik, tetapi merupakan bagian dari upaya membangun kapasitas intelektual dan kualitas sumber daya manusia Aceh Barat agar mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional.
Datuk Yahaya sendiri merupakan sosok yang memiliki hubungan erat dengan Aceh Barat. Atas kontribusi dan kedekatannya dengan masyarakat Aceh Barat, ia pernah menerima penghargaan “Teungku Chik Lila Perkasa” dari Pemerintah Kabupaten Aceh Barat pada tahun 2015.
Pertemuan tersebut menjadi momentum penting untuk memperkuat hubungan pendidikan antara Aceh Barat dan Malaysia, sekaligus membuka ruang bagi peningkatan kapasitas akademik, jejaring perguruan tinggi dan peluang pendidikan lanjutan bagi generasi Aceh di masa mendatang.[ril]






