Ancaman Pendangkalan Muara Krueng Cangkoi: Panglima Laot Aceh Barat Desak Solusi Infrastruktur dan Penanganan Cepat

oleh -168 Dilihat
oleh

​Panglima Laot Aceh Barat, Amiruddin, menyoroti persoalan penumpukan sedimen yang kian menyulitkan akses pelayaran keluar masuk kapalnelayan lokal. Menurutnya, perebutan arus dan ombak antara musim barat dan timur menjadi pemicu utama masuknya sedimen ke muara Krueng Cangkoi.

Aceh Barat (Meulabohnews) – Pergeseran musim barat dan timur yang terjadi setiap tahun terus berdampak pada kondisi perairan dan muara Krueng Cangkoi, Aceh Barat. 

Fenomena perubahan iklim dan cuaca ini memicu benturan ombak besar dari dua arah yang membawa material sedimen tinggi hingga menyebabkan pendangkalan muara secara berulang.

Foto : Panglima Laot Aceh Barat, Amiruddin.

Panglima Laot Aceh Barat, Amiruddin, menyoroti persoalan penumpukan sedimen yang kian menyulitkan akses pelayaran keluar masuk kapal nelayan lokal. Menurutnya, perebutan arus dan ombak antara musim barat dan timur menjadi pemicu utama masuknya sedimen ke muara Krueng Cangkoi.

” Pendangkalan Krueng Cangkoi terjadi saat perubahan musim dari timur ke barat yang mengakibatkan arus bawah lebih kuat mendorong sedimen ke permukaan,” ujar Amiruddin di Meulaboh, Aceh Barat, Rabu (26/8/2026).

​Sebagai langkah penanganan, Amiruddin menyarankan ada tiga solusi strategis untuk mengatasi persoalan pendangkalan tersebut secara berkelanjutan.

Perpanjangan infrastruktur jetty dengan pembangunan atau perpanjangan struktur jetty (pemecah gelombang) sepanjang 150 hingga 200 meter dinilai vital.

Perpanjangan ini berfungsi meredam gelombang tinggi sehingga muara tetap tenang dan arus sedimen terhalang masuk kembali ke aliran Krueng Cangkoi.

Pengalihan arus Krueng Meureubo Secara geografis, aliran Krueng Cangkoi terhubung dengan Krueng Meureubo. 

Pembuatan tanggul penahan di hulu Krueng Cangkoi dapat mengalirkan debit air dari Krueng Meureubo untuk mendobrak serta mendorong endapan sedimen keluar menuju laut lepas. 

Meski demikian, skema ini membutuhkan perhitungan matang karena lonjakan debit air saat musim banjir berisiko menyulitkan posisi tambat boat nelayan.

Pengerukan berkelanjutan Pemerintah diharapkan memaksimalkan operasional ekskavator (beko) hibah yang dialokasikan khusus untuk operasional pengawasan. Alat berat ini disiagakan di titik rawan menjelang musim barat tiba untuk pengerukan cepat, didukung alokasi dana operasional yang siap guna saat terjadi gangguan navigasi.

“Ke depan, pemerintah diharapkan bisa bertindak lebih cepat dan tepat sasaran saat pendangkalan terjadi. Jangan menunggu sampai ada korban seperti boat nelayan yang karam atau kandas baru pengerukan dilakukan,” tegas Amiruddin.

​Amiruddin menggaris bawahi pentingnya langkah tanggap dan proaktif dari pemerintah daerah maupun lembaga terkait seperti BPBD. Pengelolaan sumber daya perikanan dan infrastruktur laut hendaknya berfokus pada tindakan pencegahan ketimbang penanganan pasca-kejadian.

Ditambahkan pihak pemkab agar melibatkan Lembaga Swadaya  Masyarakat (LSM) dan masyarakat nelayan untuk mengawal  kegiatan perbaikan Muara Kreung Cangkoi agar lebih efektif dan maksimal.[redaksi]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.