Aceh Barat (Meulabohnews) – Pagi di Gampong Lawet tak lagi dimulai dengan suara ayam atau langkah petani menuju sawah. Yang terdengar justru sunyi-sunyi yang panjang, sunyi yang menyimpan cerita kehilangan.
Sudah 54 hari berlalu sejak bencana hidrometeorologi melanda Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat pada 27 November 2025 lalu, kondisi Gampong Lawet tidak baik-baik saja.
Namun bagi warga Gampong Lawet, Kecamatan Pante Ceureumen, Kabupaten Aceh Barat, luka itu masih terasa segar, seolah baru kemarin air bah menyapu kampung mereka.
Desa yang berjarak sekitar 60 kilometer dari pusat Kota Meulaboh ini kini seperti terjebak di antara masa lalu dan masa depan. Hingga Senin, 19 Januari 2026, warga belum memiliki tempat berteduh yang layak.
Tidak ada tenda pengungsian, tidak ada rumah yang bisa dihuni kembali. Sebagian warga terpaksa menumpang di rumah kerabat, sebagian lain bertahan di bangunan darurat seadanya, beralaskan tanah yang telah mengeras oleh lumpur.
Sisa-sisa bencana masih jelas terlihat. Bongkahan kayu besar bertumpuk di halaman rumah, di sudut jalan, bahkan di tengah permukiman. Sawah-sawah yang dulu menjadi sumber penghidupan kini rata oleh lumpur, keras dan kering, kehilangan jejak kesuburannya.

Pemandangan itu membuat siapa pun yang datang terdiam tak percaya bahwa ini adalah desa yang dulunya hidup dan produktif. “Rumah saya hancur disapu banjir. Rumah anak saya juga dua unit,” ujar seorang warga dengan suara pelan namun sarat beban.
Ia kini menumpang di rumah orang lain bersama keluarga besarnya. “Kami semua kehilangan rumah, tapi tenda saja tidak ada,” tambahnya. Kalimat itu sederhana, namun menggambarkan betapa berat hari-hari yang mereka jalani.
Di tengah keterbatasan dan rasa terpinggirkan, warga Lawet tetap berusaha menjalani hidup. Mereka bangun pagi, membersihkan sisa-sisa lumpur, menata puing-puing kayu, dan mencari cara agar dapur tetap mengepul.
Tanah yang mengeras menjadi alas kaki, menjadi saksi perjuangan mereka untuk tetap bertahan demi keluarga yang selamat dari bencana. Harapan sempat terasa jauh.
Meski kepala daerah telah beberapa kali turun langsung meninjau lokasi dan bantuan sandang serta pangan telah diterima, warga masih menanti langkah lanjutan. Mereka menunggu tanda-tanda rekonstruksi, menunggu kepastian rehabilitasi, menunggu kesempatan untuk kembali hidup normal.

Desa ini terasa sepi, seakan terlewat dari arus pemulihan yang mulai bergerak di wilayah lain.Namun di tengah sunyi itu, secercah cahaya datang dari arah yang tak disangka. Ketua Homestay Association Terengganu, Azmi bin Abdul Aziz, hadir langsung ke Gampong Lawet.
Ia mengantarkan bantuan sumbangan dari para pengusaha homestay di Terengganu, Malaysia. Kehadirannya bukan hanya membawa bantuan materi, tetapi juga rasa empati lintas batas negara.
Bagi warga, kunjungan itu menjadi penguat batin. Ada rasa haru karena penderitaan mereka didengar, dirasakan, dan diperhatikan oleh saudara jauh di negeri seberang.
Bantuan tersebut seolah menjadi pesan bahwa mereka tidak sendiri, bahwa luka di Lawet juga menjadi luka kemanusiaan yang dirasakan bersama.

Di bawah langit yang sama, warga Lawet terus melangkah meski tertatih. Anak-anak masih bermain di sela-sela puing, orang tua tetap bekerja dengan cara apa pun yang bisa dilakukan. Mereka sadar, bencana telah merenggut rumah dan harta, tetapi tidak boleh merenggut harapan.
Masyarakat Lawet tidak meminta berlebihan. Mereka hanya ingin kembali memiliki tempat berteduh, lahan untuk digarap, dan kehidupan yang layak. Mereka ingin roda kehidupan kembali berputar pelan, tetapi pasti.
Di atas tanah yang mengeras oleh lumpur banjir, harapan itu tetap tumbuh. Tak mudah, tak cepat, namun nyata. Gampong Lawet hari ini bukan hanya tentang bencana, tetapi tentang keteguhan manusia menghadapi kehilangan.
Tentang warga desa yang memilih bertahan, bekerja, dan berharap sambil menunggu saat di mana kampung mereka kembali hidup, bukan sekadar bertahan.
Dan kelak, ketika rumah-rumah berdiri kembali dan sawah kembali menghijau, Gampong Lawet akan dikenang bukan hanya sebagai korban bencana, melainkan sebagai simbol kekuatan, solidaritas, dan kemanusiaan yang tak pernah hanyut bersama banjir.
