UTU Kembangkan Model Sosio-Tekno Smart Farming Untuk Antisipasi Krisis Pangan di Aceh Barat

oleh -213 Dilihat
oleh

Foto : Contoh Sawah pertanian modern berbasis teknologi. Program yang merupakan hibah internal UTU dan dibiayai melalui PNBP Universitas Teuku Umar tersebut dilaksanakan di Desa Pucok Lhung, Kecamatan Samatiga, Kabupaten Aceh Barat, Senin (13/7/2026).

Aceh Barat (Meulabohnews) – Universitas Teuku Umar (UTU) melalui Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) mengembangkan model pertanian sosio-tekno smart farming sebagai inovasi pertanian padi untuk menghadapi tantangan keterbatasan lahan di masa depan.

Dengan melibatkan sekitar 31 petani dalam kegiatan pembelajaran pertanian modern berbasis teknologi. Program yang merupakan hibah internal UTU dan dibiayai melalui PNBP Universitas Teuku Umar tersebut dilaksanakan di Desa Pucok Lhung, Kecamatan Samatiga, Kabupaten Aceh Barat, Senin (13/7/2026).

Dosen Prodi Sosiologi FISIP UTU, Ricky Yulianda, S.Sos., M.Si, mengatakan model tersebut dikembangkan sebagai langkah antisipatif terhadap ancaman berkurangnya lahan pertanian akibat alih fungsi lahan menjadi kawasan perkebunan industri maupun permukiman.


Foto : Kegiatan pembelajaran pertanian modern berbasis teknologi. Program yang merupakan hibah internal UTU dan dibiayai melalui PNBP Universitas Teuku Umar tersebut dilaksanakan di Desa Pucok Lhung, Kecamatan Samatiga, Kabupaten Aceh Barat, Senin (13/7/2026).

Menurutnya, inovasi tersebut tidak hanya ditujukan untuk menjawab kebutuhan saat ini, tetapi juga sebagai persiapan menghadapi kondisi 10 hingga 20 tahun mendatang ketika lahan persawahan diperkirakan semakin terbatas.

“Melalui model ini, generasi muda tetap dapat bertani meskipun memiliki lahan yang sempit dengan memanfaatkan bantuan teknologi dalam proses budidaya,” kata Ricky.

Ia menjelaskan, konsep awal pembangunan lahan pertanian menggunakan sistem sawah terapung. Namun, setelah berdiskusi dengan kelompok tani dan masyarakat, konsep tersebut diubah karena dinilai kurang sesuai dengan kondisi setempat, terutama terkait daya tahan tanaman padi saat musim kemarau yang berpotensi mengalami kekurangan nutrisi.

Sebagai gantinya, tim pengabdian mengembangkan sistem sawah yang dipadukan dengan teknologi pendukung. Model tersebut juga dilengkapi kolam terpal untuk budidaya ikan sebagai bagian dari sistem pertanian terpadu.

Ricky menambahkan, kolam tersebut nantinya akan didukung sistem sirkulasi air berbasis Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) melalui pemasangan panel surya untuk menghemat penggunaan energi listrik. Meski demikian, pemasangan panel surya masih menunggu penyelesaian sejumlah aspek teknis.

Selain membangun model percontohan, kegiatan tersebut juga menjadi sarana transfer pengetahuan kepada petani mengenai penerapan pertanian modern.

“Sebanyak 31 petani mengikuti kegiatan ini. Fokusnya adalah memberikan pemahaman mengenai pertanian modern berbasis teknologi, karena sebagian besar masyarakat masih terbiasa dengan sistem pertanian konvensional dan belum banyak mengenal model pertanian seperti ini,” ujarnya.

UTU berharap model sosio-tekno smart farming dapat menjadi alternatif pengembangan pertanian berkelanjutan sekaligus meningkatkan ketahanan pangan di tengah semakin terbatasnya lahan pertanian di masa mendatang.[redaksi]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.