Tgk H Faisal Ali Resmikan Kantor PCNU Aceh Barat

oleh -60 Dilihat
oleh

Foto Bersama usai acara peresmian kantor baru di Meulaboh, Aceh Barat, Senin (11/5/2026).(ist)

NU sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia harus terus bergerak dengan pendekatan yang relevan sesuai perkembangan zaman, tanpa meninggalkan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah.

Aceh Barat (Meulabohnews) – Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Aceh Tgk H Faisal Ali menekankan pentingnya sikap nasionalisme, toleransi, dan inovasi bagi seluruh pengurus Nahdlatul Ulama (NU) di Aceh.

Hal itu disampaikan saat peresmian Kantor Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Aceh Barat, yang diketuai Dr Khairul Azhar, MA.Dalam sambutannya, ulama muda sapaan Lem Faisal ini, menyampaikan bahwa NU sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia harus terus bergerak dengan pendekatan yang relevan sesuai perkembangan zaman, tanpa meninggalkan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah, Senin (11/5/2026).

“Pengurus NU harus terus melakukan inovasi dalam berbagai konteks agar cita-cita NU dapat dilaksanakan dengan baik. Apa yang sudah berjalan baik selama ini, seperti pengajian beut warung kopi, silakan diteruskan. Di Banda Aceh ada juga pengajian di hotel, itu tidak masalah. Intinya bagaimana kita memperkenalkan Ahlussunnah wal Jamaah kepada seluruh umat,” ujarnya.

Ia juga mengucapkan selamat kepada pengurus PCNU Aceh Barat dan meminta seluruh jajaran bersiap menghadapi agenda Muktamar NU dalam waktu dekat.

Menurutnya, meski dinamika organisasi kerap terlihat panas di media sosial, namun hubungan antar kader NU tetap terjalin erat dalam forum pengajian dan silaturahmi.

“Walaupun kalau melihat perkembangan informasi di media sosial seperti perang, tetapi saat pengajian dan silaturahmi tetap sangat akrab,” katanya.

PWNU Aceh juga menegaskan bahwa seluruh kader NU berada dalam satu manhaj dan satu organisasi, meski terkadang terdapat kebijakan nasional yang perlu dipahami sesuai konteks daerah.

Ia mencontohkan, kebijakan PBNU terkait perlindungan umat Islam di daerah minoritas atau ajakan menjaga rumah ibadah nonmuslim harus dilihat secara nasional, bukan semata-mata dalam konteks lokal Aceh.

“Kita harus pahami bahwa saudara kita di NTT dan daerah lain yang minoritas membutuhkan perlindungan. Maka pernyataan itu muncul untuk menjaga persatuan dan keamanan mereka,” jelasnya.Karena itu, ia meminta seluruh pengurus NU di Aceh berhati-hati dalam bertindak dan bijak dalam menyikapi isu keagamaan maupun sosial.

“Tidak ada halangan kita melaksanakan syariat Islam secara kaffah, tetapi ada sisi-sisi yang tidak perlu dikampanyekan secara berlebihan. Toleransi dan nasionalisme dalam berpikir sangat penting,” tegasnya.

Dalam kesempatan itu, ia juga memaparkan kiprah sosial NU saat bencana banjir melanda 18 kabupaten/kota di Aceh. Menurutnya, jaringan NU dari dalam dan luar negeri turut membantu masyarakat terdampak.

“NU menerima bantuan dari berbagai pihak, termasuk Korea, Jepang, Jawa Timur, hingga PCNU Malaysia. Baru – baru ini bantuan hampir Rp300 juta sudah kita distribusikan langsung membeli kitab-kitab untuk santri terdampak bencana alam,” katanya.[*]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.