Terancam Kelaparan, Seratusan Hektar Sawah di Beutong Ateuh Banggalang Terbengkalai 

oleh -410 Dilihat
oleh

Foto : Kondisi sawah terasering yang tidak bisa di garap akibat irigasi rusak di terjang banjir pascabencana Hidrometeorologi melanda Beutong Ateuh Bangggalang, Nagan Raya, Aceh, Rabu (22/7/2026).(Meulabohnews/Yulham)

Ketua Perempuan Beutong Bersatu (PBB),  Saudah, lebih dikenal Makwod mengatakan keadaan masyarakat di empat desa yaitu Blang Meurandeh, Blang Puuk, Kuta Teungoh dan Babah Suak, tergabung dalam kemukiman Beutong Ateuh Banggalang, Kecamatan Beutong Ateuh Bangggalang terancam kelaparan.

Nagan Raya (Meulabohnews) – Masyarakat Kecamatan Beutong Ateuh Bangggalang mulai resah dan panik pasca delapan bulan bencana hidrometeorologi melanda wilayah itu mengakibatkan seratus hektar lebih sawah sistem terasering tidak bisa di garap.

Hal itu terungkap saat Meulabohnews mengunjungi wilayah terujung dari Kabupaten Nagan Raya, Profinsi Aceh yang berjarak sekitar 70 kilometer dari pusat ibukota.

Ketua Perempuan Beutong Bersatu (PBB),  Saudah, lebih dikenal Makwod mengatakan keadaan masyarakat di empat desa yaitu Blang Meurandeh, Blang Puuk, Kuta Teungoh dan Babah Suak, tergabung dalam kemukiman Beutong Ateuh Banggalang, Kecamatan Beutong Ateuh Bangggalang terancam kelaparan.

” Masyarakat khawatir akan ketersediaan pangan karena tidak bisa menanam padi dan bergantung pada bantuan yang kini telah habis,” ujar Makwod di warung miliknya di Beutong Ateuh Banggalang, Rabu (22/7/2026).

Lebih lanjut Makwod mengatakan kerusakan irigasi permanen yang mengairi sawah masyarakat hingga kini belum ada perbaikan dari pihak Pemerintah pusat dan pemerintah kabupaten.

Mereka berharap pemerintah segera membangun irigasi dan rumah tetap untuk masyarakat yang terdampak bencana alam tersebut.

” Meskipun ada bantuan dari pusat, pembangunan belum dimulai, dan beberapa daerah lain sudah selesau dalam hal ini. Selain itu, kondisi tempat tinggal warga yang tidak layak, seperti kebocoran saat hujan, menjadi perhatian. Masyarakat berharap agar pemerintah segera mengambil tindakan untuk memperbaiki situasi ini agar mereka dapat kembali bertani dan memenuhi kebutuhan pangan,” tegas Makwod.

Saat ini masyarakat yang berprofesi sebagai petani terpaksa alih profesi dengan berkebun seperti coklat, pinang, kopi dan rempah rempah namun tidak mampu menutupi kebutuhan sehari hari.

Harapan untuk memulai bertani sebagai ujung tombak penopang kehidupan dan ketahanan pangan hingga kini tinggal angan angan yang tak bisa dijalankan.

Kehidupan masyarakat Beutong Ateuh Banggalang semakin terjepit dan prahara krisis ketahan pangan akan mendorong tekanan di berbagai sektor kehidupan, semoga pemangku kebijakan bisa bertindak sebagai bentuk keberpihakan terhadap rakyat.[redaksi]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.