Sekolah Darurat, Siswa SMPN Betong Belajar Lesehan di Gedung Bekas Pasar

oleh -60 Dilihat
oleh

Plt. Kepala Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri Beutong Ateuh, Ilyas S.Pd.I menyampaikan kegiatan belajar siswa/i kelas satu hingga tiga berjumlah 97 orang masuk tahun ajaran baru 2026/2027 di gedung bekas pasar tradisional.

Nagan Raya (Meulabohnews) – Pascabencana alam yang memporak-porandakan wilayah Beutong Ateuh Banggalang, kegiatan belajar mengajar di SMP Negeri Beutong  kini terpaksa dialihkan ke gedung darurat atau bekas pasar pekan tradisional. 

Meski semangat belajar tetap ada, para siswa dan guru harus bertahan di tengah keterbatasan fasilitas yang sangat minim bahkan bisa dikatakan memprihatinkan dunia pendidikan.

Plt. Kepala Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri Beutong Ateuh, Ilyas S.Pd.I menyampaikan kegiatan belajar siswa/i kelas satu hingga tiga berjumlah 97 orang masuk tahun ajaran baru 2026/2027 di gedung bekas pasar tradisional.

” Sebelumnya pasca bencana para siswa/i ini belajar dengan berbagi ruangan bersama SDN 1 Beutong di Desa Blang Puuk, namun Alhamdulillah sejak kami menjabat Plt kepala sekolah masuk tahun ajaran baru ini sudah bisa belajar di gedung bekas pasar ini, ” ujar Ilyas di Kecamatan Beutong Ateuh Banggalang, Nagan Raya, Kamis (3/9/2026).

Sejak bencana alam menerjang dan merusak bangunan sekolah mereka terpaksa di gabung bersama murid SDN 1 pada bangunan yang dibangun tanpa dinding yang beralaskan terpal dan meja bekas bantuan dan sebagaian di bawa dari rumah oleh murid.

Meskipun aktivitas belajar mengajar sudah tidak lagi menumpang di gedung sekolah dasar dan jam belajar tidak lagi terbagi hingga sore hari, kondisi sekolah darurat ini masih jauh dari kata layak.

Parapelajar harus mengikuti proses belajar mengajar secara lesehan di atas tikar plastik karena tidak tersedianya kursi, dan hanya dibantu meja belajar seadanya.

“Kalau masalah aktivitas belajar mengajar kalau untuk sekarang seadanya, anak-anak duduk di atas lantai pakai tikar plastik. Sementara yang disediakan oleh Pemerintah Kabupaten cuma meja saja Pak, meja dalam satu meja itu dua anak-anak. Tempat duduknya di atas lantai pakai tikar. Peralatan perlengkapan sekolah lain tidak ada, baik komputer, laptop, tidak ada,” ujar Ilyas.

Selain ketiadaan fasilitas penunjang seperti laboratorium komputer dan perangkat mebeler, sekolah darurat ini juga menghadapi kendala serius terkait ketersediaan buku paket mata pelajaran. Saat ini, hanya guru yang memegang satu buku panduan, sementara para siswa tidak memiliki buku pegangan sendiri.

Tak hanya itu, fasilitas sanitasi seperti toilet atau WC pun belum tersedia, sehingga menyulitkan para siswa dan guru. Lokasi sekolah yang dikelilingi semak belukar juga memaksa pihak sekolah, komite, dan orang tua murid bergotong royong membangun pagar pengaman secara swadaya.

Kami juga memohon kepada pemerintah, baik di tingkat desa, kecamatan, kabupaten, provinsi, dan pusat, supaya pendidikan di Beutong Ateuh ini betul-betul jalan. Terutama pembangunan sekolah harus betul-betul cepat siap, dan juga dukungan moral maupun materiil sangat kami harapkan,”  ujar Ilyas.

​Pihak sekolah dan masyarakat setempat berharap pemerintah segera merespons kondisi ini dengan mempercepat pembangunan gedung sekolah baru yang permanen, demi menjamin keberlangsungan dan kualitas pendidikan anak-anak di daerah terdampak bencana tersebut.[redaksi]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.