Pengajian Ibu-Ibu Sosialita “Wanita Saleha” Sentuh Cafe di Meulaboh, Kemas Kajian Agama dengan Narasi Kocak

oleh -97 Dilihat
oleh

“Tujuan utama kegiatan ini adalah untuk mendapatkan ilmu, terutama sebagai bekal dalam mengarungi bahtera rumah tangga serta mempersiapkan diri menuju kehidupan akhirat kelak,” ujar Dian.

​Aceh Barat (Meulabohnews) — Mematahkan stigma bahwa cafe hanya menjadi tempat berkumpul dan bersantai tanpa arah, Tgk Mizwar, M.Sos., seorang Penyuluh Agama Islam PPPK KUA Kecamatan Samatiga, gencar menggelar pengajian rutin bagi kalangan ibu-ibu sosialita yang tergabung dalam kelompok “Wanita Saleha”.

​Uniknya, pengajian rutin bulanan ini mengusung konsep berpindah dari satu cafe ke cafe lainnya di seputaran Kota Meulaboh.

Pada kesempatan kali ini, kegiatan keagamaan tersebut dilaksanakan di Cafe “Siap Ketua” dengan diikuti oleh 30 orang peserta.

​Pengajian yang mengangkat tema “Balasan Akhirat Bagi Pelaku Maksiat” tersebut berlangsung hangat dan penuh keakraban.

Suasana semakin hidup berkat gaya penyampaian materi dari penceramah yang diselingi narasi kocak dan humor segar, sehingga memicu gelak tawa serta antusiasme para ibu-ibu sosialita yang hadir.

​Ketua Pelaksana Kegiatan, Dian Soraya, menyampaikan bahwa pengajian rutin ini diselenggarakan sebagai wadah untuk menimba ilmu agama yang berguna dalam kehidupan sehari-hari.

​”Tujuan utama kegiatan ini adalah untuk mendapatkan ilmu, terutama sebagai bekal dalam mengarungi bahtera rumah tangga serta mempersiapkan diri menuju kehidupan akhirat kelak,” ujar Dian.

​Sementara itu, Tgk Mizwar, M.Sos., yang akrab disapa “Abu Milenial”, menjelaskan alasannya memilih cafe sebagai tempat pelaksanaan dakwah.

Menurut Mizwar, citra cafe yang selama ini identik dengan ajang hura-hura perlu diubah menjadi ruang yang lebih bernilai positif, khususnya dalam mendukung penerapan syariat Islam.

​”Cafe selama ini kerap diasumsikan identik sebagai tempat hura-hura. Namun, kenapa tidak kita coba ubah wajahnya ke arah yang lebih positif, khususnya dalam penerapan sisi syariat?” ungkap Abu Milenial.

​Melalui pendekatan dakwah yang adaptif dan merangkul berbagai lapisan masyarakat ini, diharapkan pesan-pesan keagamaan dapat tersampaikan dengan lebih segar, menyenangkan, dan tepat sasaran.[*]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.