Pencemaran Sungai Krueng Tujoh, Anomali Pertambangan

oleh -578 Dilihat
oleh

Foto Udara via drone hulu Krueng Tujoh mengalami penyempitan dan sedimentasi yang diduga terjadi kerusakan akibat adanya aktifitas pertambangan di Desa Balee, Kecamatan Meureubo, Aceh Barat, Minggu (2/8/2026).(Meulabohnews/Yulham).

Aceh Barat (Meulabohnews) – Aliansi Masyarakat Krueng Tujoh Kecamatan Meureubo bersama sejumlah jurnalis menelusuri hulu sungai Krueng Tujoh untuk melihat kondisi terkini di duga aliran sungai mulai menyempit, kondisi air mulai menghitam dan sedimen semakin menebal di dasar sungai.

Dengan menaiki dua unit perahu mesin milik masyarakat setempat menempuh waktu satu setengah jam barulah tiba di lokasi hulu sungai Krueng Tujoh.

Foto : Jurnalis saat mengabadikan gambar kondisi Krueng Tujoh yang diduga rusak akibat aktifitas pertambang di sempadan sungai di Desa Balee, Kecamatan Meureubo, Aceh Barat, Minggu (2/8/2026).(Meulabohnews/Yulham).

Anggota Presidium Aliansi Masyarakat Krueng Tujoh, M.Yunus Bidin, S.H., M.H. mengatakan kondisi hulu Krueng Tujoh sangat memprihatinkan dan rusak akibat adanya aktifitas pertambangan disekitar aliran sungai yang hanya berjarak belasan meter.

” Tiba di titik lokasi dimaksud kami kaget dan tercengang melihat suasana alam yang dulu hijau asri kini sudah luluh lantak akibat proses pertambangan batu bara yang dilakukan oleh PT.NCN/CK yang hanya lebih kurang sepuluh meter dari sisi Krueng Tujoh,” ujar M. Yunus Bidin, di hulu Sungai Krueng Tujoh, Kecamatan Meureubo, Aceh Barat, Minggu (2/8/2026).

Dikatakan Yunus bersama berbagai element masyarakat menduga kuat pencemaran berupa keruhnya air, sedimentasi, penyempitan bentang sungai, kerusakan pengaman dan air berbau menyengat dengan reaksi gatal gatal pada kulit selama ini di duga akibat aktifitas pertambangan batu bara.

” Krueng Tujoh sebagai sumber penghidupan masyarakat setempat tidak bisa di manfaatkan lagi karena ekosistem nya sudah rusak, makin menyayat hati ketika kami saksikan langsung hulu sungai krueng tujoh sudah tidak bisa dilalui lagi akibat Daerah Aliran Sungai (Das) sudah rusak, penuh dengan potongan kayu berserakan bekas galian dan pertambangan.” ujar M Yunus Bidin.

Terkait persoalaan kerusakan DAS Krueng Tujoh, Aliansi Masyarakat tersebut meminta Pemerintah Aceh dan Pemkab Aceh Barat untuk segera melihat kondisi kerusakan.

Pemerintah diminta untuk melihat fakta di lapangan dengan kerusakan bentangan hulu sungai, hutan di bantaran mulai hilang, ekosistem air tawar kian menurun yang merupakan mata pencaharian masyarakat sekitar.

Sementara itu pihak PT. NCN saat diminta konfirmasi terhadap dugaan pertambangan batu bara yang dilakukan di daerah aliran Krueng Tujoh dengan upaya telpon dan melayangkan whatsapp tidak mendapat respon sejak sore minggu (2/8/2026) hingga berita ini tayang Senin (3/8/2026).

Pemerintah diminta untuk melakukan peninjauan ulang terhadap wilayah konsesi tambang yang tidak menjaga jarak aman tambang terhadap sungai atau sempadan sungai.

Dengan tetap melihat kondisi Krueng Tujoh sebagai satu kesatuan masyarakat di DAS yang menggantungkan kehidupan pada aliran air untuk kebutuhan pertanian, mata pencaharian masyarakat sekitar dan menjaga keutuhan Krueng Tujoh sebagai ikon masyarakat Meureubo.

Aliansi masyarakat Krueng Tujoh akan membuat laporan ke Penegak Hukum Kementrian lingkungan Hidup di Jakarta dan komnas HAM RI guna memaksimalkan advokasi terhadap Krueng Tujoh yang merupakan sumber kehidupan masyarakat di wilayah DAS dan sekitarnya.[redaksi]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.