Merawat Tradisi Meujalateh, Warisan Meuseuraya Masyarakat Aceh Dahulu

oleh -312 Dilihat
oleh

Foto : Pemuda dan para kaum dewasa saat mengelilingi kampung dengan penerangan obor melestarikan warisan budaya ” Meujalateh” di jalan Desa Leukeun, Kecamatan Samatiga, Aceh Barat, Kamis (6/8/2026) malam.(Meulabohnews/Yulham).

Meujalateh dalam bahasa Aceh di artikan memanjatkan doa untuk menolak bala atau musibah yang diyakini pada bulan safar dalam kalender hijriyah sebagai bulan yang panas atau bulan banyak mara bahaya di datangkan ke muka bumi sebagai penanda dan pengingat dari sang Pencipta alam Allah Subhanahuwataala.

Aceh Barat (Meulabohnews) – Puluhan pemuda dan para lelaki dewasa usai shalat magrib secara kompak menyalakan obor dari potongan bambu yang di isi minyak tanah bersumbukan kain bekas,  sementara itu beberapa orang dengan sigap mengikat bendera putih bertuliskan surah yang diyakini sebagai inti atau hati dari Al-Quran.

Sejurus kemudian mengikat rajutan bulu ijuk hitam pekat sepanjang dua meter pada bambu sebagai cambuk atau pemukul setan yang merupakan musuh umat manusia, bulu ijuk diyakini sebagai cambuk yang ampuh mengusir mahluk halus yang  menggangu ketentraman manusia.

Meujalateh dalam bahasa Aceh di artikan memanjatkan doa untuk menolak bala atau musibah yang diyakini pada bulan safar dalam kalender hijriyah sebagai bulan yang panas atau bulan banyak mara bahaya di datangkan ke muka bumi sebagai penanda dan pengingat dari sang Pencipta alam Allah Subhanahuwataala.

Meujalateh rutin dilakukan oleh masyarakat Desa Leukeun, Kecamatan Samatiga, Kabupaten Aceh Barat setiap memasuki bulan safar pada tanggal sepuluh hari  keatas dengan melaksanakan zikir dan shalawat di Masjid Desa setiap usai shalat Magrib secara berjamaah.

Tgk imam masjid Desa Leukeun, Jamaluddin Isa menjelaskan jalateh berarti doa doa yang dipanjatakan untuk menolak marabahaya yang diyakini pada bulan safar dikenal bulan panas dalam kalender hijriyah bagi masyarakat Aceh khususnya.

” Jalateh berarti doa yang dipanjatakan, berikut zikir dan shalawat yang bertujuan untuk memuja dan memuji sang pencipta, untuk menjauhkan mara bahaya dan segala kemudharatan pada bulan safar,” ujar Tgk Jamaluddin, di Desa Leukeun, Kecamatan Samatiga, Kamis (6/8/2026).

Para pemuda dan kaum laki dewasa lalu secara bersama berjalan keliling Desa dengan titik kumpul di pekarangan masjid Desa dengan dipandu oleh Geuchik atau kepala desa menyusuri jalan dengan penerangan obor bambu.

Disetiap langkah diiringi dengan zikir dan shalat nabi sebagai bentuk ucapan memuji dan mengharapkan bulan safar di hindari dari musibah dan marabahaya di desa tersebut.

Lalu pada pertengahan jalan desa sebelum sampai pada tempat rehat rombongan jalateh di sediakan air dalam cawan untuk mencelupkan tangan untuk dicuci.

Kemudian sampailah pada titik pemberhentian rombongan menikmati sajian kopi hangat dengan bubur kanji beras kacang hijau yang di siapkan dalam mangkuk untuk di cicipi.

Selesai menikmati hidangan dari warga yang begitu nikmat dengan nuansa kegelapan malam semilir angin sejuk berhembus di antara bulir padi mulai mewangi di sepanjang jalan desa.

Rombongan mulai melanjutkan perjalanan secara teratur dan rapi menuju titik akhir di masjid desa yang merupakan simbol kekuatan agama dan keharmonisan dengan sesama umat muslim.

Geuchik Desa Leukeun, Kamaruzzaman di sela usai makan bubur kanji menjelaskan bahwa masyarakat sangat antusias mengikuti kegiatan acara meujalateh sebagai bagian tak terpisahkan dari tradisi nenek moyang sejak dulu untuk mewujudkan lingkungan kampung yang selalu damai dan jauh dari marabahaya.

” Kita sebagai umat muslim meyakini bahwa bulan safar ini bulan Allah SWT menurunkan bala kepada umat manusia, tugas kita yaitu berdoa, berzikir dan shalawat untuk menjauhkan bala dari desa kita,” ujar Kamaruzzaman.

Meujalateh juga sebagai ajang silaturrahmi dan mempersatukan masyarakat agar jalinan kekeluargaan sesama warga semakin kuat dengan mengelilingi desa dan makan kanji bersama pada rumah warga.

Masyarakat Desa Leukeun sangat antusias dan aktif mendukung kegiatan  yang rutin setahun sekali dilaksanakan dengan kompak warga menyumbang semua keperluan untuk menyukseskan pelaksanaan tradisi Meujalateh.[redaksi]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.