Perempuan yang akrab disapa Kak Boy ini merupakan warga Gampong Tanoh Anoe, Kecamatan Jangka, Kabupaten Bireuen. Di tengah semakin berkurangnya produsen Pliek U di perkampungan Aceh, Kak Boy konsisten menjaga keuneubah endatu (warisan leluhur) tersebut melalui usaha rumahan yang dimulainya sejak tahun 2004.
Bireueun (Meulabohnews) – Kelapa (Cocos nucifera L.) telah lama menjadi sumber pangan yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat.
Dari akar hingga daun, nyaris seluruh bagian tanaman monokotil ini dapat dimanfaatkan. Meski 80 persen penduduk dunia terbiasa mengonsumsinya, di tangan Zubaidah (51), daging kelapa diolah menjadi sesuatu yang jauh lebih istimewa yaitu Pliek U atau Patarana, bumbu legendaris khas kuliner Aceh yang kini kian langka.
Perempuan yang akrab disapa Kak Boy ini merupakan warga Gampong Tanoh Anoe, Kecamatan Jangka, Kabupaten Bireuen. Di tengah semakin berkurangnya produsen Pliek U di perkampungan Aceh, Kak Boy konsisten menjaga keuneubah endatu (warisan leluhur) tersebut melalui usaha rumahan yang dimulainya sejak tahun 2004.
Proses pembuatan Pliek U sendiri membutuhkan ketelitian dan kesabaran tinggi. Tahap awal dimulai dengan meragi atau memfermentasi daging kelapa selama 4 hingga 6 hari.
Setelah fermentasi cukup, kelapa dikukur lalu dijemur di bawah terik matahari selama 2 hingga 3 hari sebelum akhirnya diperas untuk dipisahkan dari minyaknya.
”Usaha ini merupakan aktivitas turun-temurun dari keluarga,” ujar Kak Boy di pelataran Rumahnya di Desa Tanoh Anoe, Kecamatan Jangka, Kabupaten Bireuen, Senin (28/9/2026).
Dalam kurun waktu satu bulan, usaha rumahan milik Kak Boy mampu mengolah sekitar 6 hingga 8 ton kelapa.
Dari jumlah tersebut, dihasilkan sekitar 120 kilogram Pliek U berkualitas dengan omzet mencapai lebih dari Rp10 juta per bulan.
Bagi masyarakat Aceh, Pliek U bukan sekadar bumbu penyedap masakan seperti kuah pliek atau rujak.
Lebih dari itu, Pliek U memuat identitas dan pengetahuan lokal yang sakral. Di tengah ancaman hilangnya tradisi pengolahan ini di kalangan generasi muda, dedikasi Kak Boy di Bireuen menjadi benteng pertahanan agar cita rasa warisan nenek moyang tetap lestari di bumi Serambi Mekkah.(Rubama)





