Kompetisi Seni “Seumapa” Pemantik Bagi Kaum Muda Untuk Melestarikan Budaya Aceh

oleh -53 Dilihat
oleh

Penampilan salah satu peserta seni Seumapa yang dilaksanakan di KM Kupi, Meulaboh, Minggu (18/5/2026).(ist)

Seumapa selama ini identik diperankan oleh orang tua pada prosesi adat pernikahan. Melalui kompetisi ini kami ingin generasi muda mampu memperagakan dan melestarikan budaya tersebut,” kata Nurul Fahmi.

Aceh Barat (Meulabohnews) – kompetisi seni budaya bertajuk “Seumapa” di ikuti oleh 20 peserta terdiri dari mahasiswa/si dari berbagai perguruan tinggi di Aceh Barat dan kalangan muda, di Warkop KM Kupi Meulaboh, Minggu 17 Mei 2026.

Kegiatan yang mengusung tema “Revitalisasi Warisan Budaya dan Kearifan Lokal Aceh untuk Generasi Mendatang” tersebut diselenggarakan oleh komunitas pemuda pecinta budaya sebagai upaya melestarikan tradisi adat Aceh di kalangan generasi muda.

Penanggung jawab kegiatan, Nurul Fahmi, mengatakan pementasan Seumapa merupakan tradisi adat Aceh berupa seni berbalas pantun yang biasanya diperagakan dalam acara resepsi pernikahan untuk menyambut keluarga mempelai.

“Seumapa selama ini identik diperankan oleh orang tua pada prosesi adat pernikahan. Melalui kompetisi ini kami ingin generasi muda mampu memperagakan dan melestarikan budaya tersebut,” kata Nurul Fahmi.

Ia menjelaskan, dalam kompetisi tersebut para peserta tidak hanya menampilkan tema adat lamaran, tetapi juga diberi ruang untuk mengeksplorasi kreativitas melalui tema-tema inovatif seperti pelestarian budaya lokal, kepedulian lingkungan, hingga nilai kebersamaan dalam masyarakat.

Para peserta tampil mengenakan pakaian adat Aceh sambil memperagakan seni berbalas pantun khas daerah dengan gaya dan kreativitas masing-masing.

Menurut Nurul Fahmi, kegiatan tersebut diharapkan menjadi wadah edukasi budaya sekaligus membangkitkan minat generasi muda terhadap tradisi lokal Aceh yang mulai jarang dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Kami berharap Seumapa tetap hidup dan dikenal oleh generasi mendatang sebagai bagian dari identitas budaya Aceh,” ujar Fahmi.

Kegiatan ini juga melibatkan para budayawan dan dan unsur pemerintah, akademisi sebagai juri profesional. Di akhir acara juga diselenggarakan dialog budaya bersama budayawan.[*]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.