Murid SDN Alue Lhok terpaksa mengarungi sungai untuk mengikuti ujian di Sekolah akibat jembatan penghubung putus di terjang banjir akhir 2025 lalu.(ist)
Dalam sepekan terakhir, para siswa harus menyeberangi sungai dengan berenang atau dipikul oleh orang tua mereka karena tidak tersedia perahu maupun sarana penyeberangan lainnya.
Aceh Barat (Meulabohnews) – Puluhan murid Sekolah Dasar Negeri (SDN) Alue Lhok, Kecamatan Pante Ceureumen, Kabupaten Aceh Barat, terpaksa mengarungi sungai setiap hari untuk mengikuti kegiatan sekolah dan ujian setelah jembatan penghubung antara Gampong Cangai dan Gampong Jambak ambruk akibat banjir bandang pada akhir 2025.
Dalam sepekan terakhir, para siswa harus menyeberangi sungai dengan berenang atau dipikul oleh orang tua mereka karena tidak tersedia perahu maupun sarana penyeberangan lainnya.
Setibanya di seberang sungai, anak-anak mengenakan seragam sekolah dan menjemur pakaian yang basah sebelum melanjutkan perjalanan ke sekolah.
“Selama ujian kami ke sekolah berjalan dan berenang melewati sungai. Sebelum ujian kami belajar di Polindes di kampung,” kata Raudhatun Nisa, siswi kelas IV SDN Alu Lhok, Jumat (5/6/2026).
Kondisi tersebut merupakan dampak dari banjir bandang yang melanda Kecamatan Pante Ceureumen pada November 2025.
Bencana hidrometeorologi itu menyebabkan sejumlah infrastruktur, termasuk jembatan, bangunan sekolah, dan rumah warga, mengalami kerusakan parah.Meski harus menyeberangi sungai setiap hari, para siswa tetap bersemangat untuk bersekolah.
Mereka berharap pemerintah segera membangun kembali jembatan yang rusak dan memperbaiki fasilitas pendidikan yang terdampak bencana.”Kami mohon jembatan dibangun kembali dan sekolah kami yang rusak diperbaiki,” ujar Nisa.
Salah seorang orang tua murid, Idrus, mengatakan warga sangat membutuhkan pembangunan kembali jembatan karena akses alternatif yang tersedia harus ditempuh dengan memutar sejauh sekitar delapan kilometer melalui jalan yang rusak.
“Ada jalan lain, tetapi harus memutar sekitar delapan kilometer dan kondisinya rusak. Waktu kami habis untuk mengantar dan menjemput anak sekolah,” katanya.
Kepala SDN Alue Lhok, Amir, S.Pd, menjelaskan pihak sekolah tidak pernah menganjurkan siswa menyeberangi sungai. Menurutnya, keputusan tersebut merupakan pilihan orang tua karena jalur sungai menjadi akses terdekat menuju sekolah.
“Jembatan penghubung itu hancur saat bencana akhir 2025. Selama ini anak-anak di Gampong Canggai kami fasilitasi dengan kelas jauh di Polindes dan guru datang mengajar ke sana. Namun saat ujian, mereka diantar orang tua ke sekolah melalui sungai,” ujar Amir.
Ia menambahkan, berdasarkan hasil pertimbangan bersama orang tua siswa, kegiatan belajar mengajar ke depan direncanakan tidak lagi dilaksanakan melalui kelas jauh di Polindes.
Amir berharap pemerintah segera memberikan solusi bagi masyarakat dan dunia pendidikan di kawasan tersebut. Selain jembatan yang belum dibangun kembali, SDN Alue Lhok juga masih mengalami kerusakan pada lima bangunan sekolah, termasuk perpustakaan yang kehilangan seluruh koleksi buku akibat bencana.
“Kami berharap jembatan segera dibangun dan bangunan sekolah yang rusak dapat diperbaiki agar anak-anak mendapatkan akses pendidikan yang layak,” katanya.
Hingga kini, para siswa di daerah terpencil tersebut masih menjalani proses belajar dalam keterbatasan dan belum menikmati sejumlah program pemerintah, termasuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang di gadang gadang kan Pemerintah sebagai perubahan pemenuhan gizi anak.[*]






