DPRK Aceh Barat Minta DLH Uji Laboratorium Air Krueng Meureubo dan Woyla

oleh -279 Dilihat
oleh

Ramli mengatakan, pemeriksaan kualitas air perlu dilakukan secara menyeluruh terhadap sejumlah sungai besar di Aceh Barat yang memiliki keterkaitan langsung dengan kehidupan masyarakat.

Aceh Barat (Meulabohnews) – Anggota DPRK Aceh Barat Ramli, SE meminta Pemerintah Kabupaten Aceh Barat melakukan uji laboratorium terhadap kualitas air sungai, tidak hanya di Krueng Tujoh, Kecamatan Meureubo, tetapi juga di kawasan Krueng Woyla.

Permintaan tersebut disampaikan Ramli dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Aliansi Masyarakat Krueng Tujoh, Kecamatan Meureubo, di Aula Rapat Utama DPRK Aceh Barat, Senin (24/8/2026). Rapat dipimpin Ketua DPRK Aceh Barat Siti Ramazan dan dihadiri perwakilan empat perusahaan, yakni PT IPE, PT AJB, PT Mifa dan PT NCN.

Ramli mengatakan, pemeriksaan kualitas air perlu dilakukan secara menyeluruh terhadap sejumlah sungai besar di Aceh Barat yang memiliki keterkaitan langsung dengan kehidupan masyarakat.

“Jangan hanya Krueng Tujoh saja. Krueng Woyla juga harus dilakukan uji laboratorium. Ada dua sungai besar di Aceh Barat yang sudah tidak pernah bersih. Tolong juga dicek, mudah-mudahan tidak tercemar,” ujar Ramli.

Menurutnya, persoalan kualitas air sungai tidak hanya berkaitan dengan lingkungan, tetapi juga menyangkut kebutuhan masyarakat karena terdapat sumber air yang dimanfaatkan oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM).

“Sungai kita ada PDAM yang mengambil sumber air, baik di Krueng Meureubo maupun Woyla. Itu memiliki hubungan ekologis dengan lingkungan masyarakat,” katanya.

Ramli menilai, persoalan Krueng Tujoh tidak dapat dilihat sebagai persoalan yang berdiri sendiri. Menurutnya, kawasan tersebut hanya menjadi salah satu bagian yang saat ini mendapat perhatian masyarakat, sementara aktivitas perusahaan di wilayah Aceh Barat perlu dilihat secara lebih luas.

“Krueng Tujoh hanya bagian kecil yang menjadi perhatian. Namun secara umum aktivitas seperti AJB dan IPE yang mengaku belum beroperasi produksi batubara, bersentuhan dengan kawasan Krueng Tujoh. Itu aneh,” ungkapnya.

Ia juga menyoroti aktivitas pengangkutan batubara yang menurutnya telah menggunakan jalan nasional. Ramli menyebut, material batubara yang tercecer di badan jalan masih dapat ditemukan dalam aktivitas sehari-hari.

“Perusahaan ini sudah berapa lama menggunakan jalan nasional untuk hauling batubara. Batubara yang tercecer di jalan bisa dilihat setiap hari dan membuat masyarakat terusik,” tegasnya.

Ramli berharap Pemkab Aceh Barat melalui instansi teknis segera melakukan pengujian kualitas air di sejumlah sungai, sehingga kondisi lingkungan dapat diketahui secara ilmiah dan menjadi dasar dalam menentukan langkah penanganan.

Ia menegaskan, pengawasan lingkungan harus dilakukan secara menyeluruh agar keberadaan investasi dan aktivitas perusahaan tetap berjalan tanpa mengabaikan kepentingan masyarakat serta kelestarian ekosistem sungai.[redaksi]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.