“Beut Panteu Keude” Sarana Pencerahan Agama di Warung Kopi

oleh -159 Dilihat
oleh

Aceh Barat (Meulabohnews) – Aceh terkenal dengan daerah seribu warung kopi yang merupakan bagian tak terpisahkan dari aktifitas masyarakat untuk bersilaturahmi dan tempat bertemu dengan seseorang atau keluarga yang menjadikan warung kopi lokasi paling populer.

Beut Panteu Keude merupakan inovasi gerakan dakwah yang diinisiasi oleh pemuda Samatiga sebagai wadah belajar dan berdiskusi tentang berbagai persoalan keagamaan dan sosial kemasyarakatan di warung Kopi.

Kegiatan tersebut dilakukan oleh pemuda Samatiga secara intens setiap bulan dengan dukungan penuh dari Kemenag, akademisi, pemerintah dan para ulama.

Kakanmenag Aceh Barat, Dr. Khairul Azhar, M.A., mengatakan saat ini masyarakat Aceh dilanda krisis keteladanan, kejujuran dalam berbagai hal yang menjadi suri tauladan kepada generasi muda.

Digitalisasi menjadi problematika tersendiri dikalangan masyarakat, orang tua pun kadangkala lupa dan larut dengan fitur-fitur yang disuguhkan oleh berbagai aplikasi dalam kerangka lebih banyak negatif sehingga berdampak pada prilaku yang tidak di inginkan bagi generasi.

“Kegiatan beut panteu Keude sangat positif dan harus kita dukung bersama. Masyarakat bisa mendapatkan ilmu pengetahuan sambil menikmati kopi dan makanan ringan yang disediakan,” ungkap Khairul Azhar, di sela acara tersebut di Desa Leukeun, Kecamatan Samatiga, Aceh Barat, Rabu (12/8/2026).

Lebih lanjut Khairul mengatakan beut panteu keude adalah cikal bakal Uswatun Hasanah bagi masyarakat Samatiga yang menjadikan dakwah trend baru di kalangan muda mudi pada warung kopi.

Geuchik Gampong Leuken, Kamaruzzaman mengapresiasi pelaksanaan kegiatan Beut Panteu Keude menjadi sarana dan gaya dakwah yang diinisisi oleh generasi muda Samatiga, namun sarana ini sangat positif apalagi kali ini berkolaborasi dengan Mahasiswa KKN UTU yang saat ini sedang melakukan pengabdian masyarakat di 32 gampong di kecamatan Samatiga.

” Patut diapresiasi pada penyuluh agama Samatiga seperti Tgk. Mizwar dalam memberikan dakwah bersifat positif dalam menebarkan nilai-nilai kebaikan dan sangat berdampak pada masyarakat khusus di Samatiga dan Aceh Barat umumnya meskipun Panteu Keude sebagai ruang lingkup terbatas,” ujar Kamaruzzaman.

Ia berharap kegiatan tersebut dapat terus berlanjut dan menjadi ruang berdiskusi dan gagasan yang menghadirkan berbagai tema serta isu-isu aktual yang bermanfaat bagi masyarakat seputar ibadah

“Melalui Beut Panteu Keude, saya berharap lahir banyak dinamika keilmuan dan pemahaman yang lebih luas terhadap berbagai persoalan keagamaan maupun sosial yang sedang berkembang,” harap Kamaruzzaman.

Kegiatan berlangsung dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan, dengan partisipasi aktif masyarakat dari berbagai kalangan, termasuk kaum ibu yang mengikuti pembelajaran hingga acara berakhir.

Ikut serta hadir unsur muspika Samatiga, Rektor UTU diwakili oleh Dr Fitriadi, geuchik Leukeun, tokoh masyarakat.[ril]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.