Simeulue (Meulabohnews.com) – Yayasan Penyu Indonesia (YPI) Simeulue mengajak masyarakat untuk bersama-sama menjaga, merawat, dan melindungi populasi penyu yang tersebar di sejumlah pantai di Kabupaten Simeulue. Upaya ini dilakukan melalui program konservasi murni tanpa penangkaran, dengan fokus menjaga penyu saat bertelur hingga tukik menetas dan kembali ke laut.

Program Manager YPI Simeulue, Estafan, Selasa 17 Februari 2026 mengatakan pihaknya saat ini melakukan pendampingan terhadap tiga kelompok pengelola konservasi, yakni Kelompok Mapela, Mapedam dan KKPS.

Kegiatan pemantauan dan perlindungan dilakukan di enam pantai yang berada di dua kecamatan, yakni Kecamatan Salang serta Kecamatan Alafan.

“Konservasi yang kami lakukan murni, tidak ada penangkaran. Kami menjaga penyu-penyu yang bertelur di pantai hingga telurnya menetas dan tukik turun ke laut,” ujar Estafan.

Ia menjelaskan, satu individu penyu dapat bersarang sebanyak lima hingga tujuh kali dalam satu musim. Saat ini, di wilayah pantauan YPI Simeulue tercatat sekitar 30 individu penyu yang aktif bersarang.

Dalam satu sarang, kata Estafan, terdapat sekitar 100 butir telur. Dari jumlah tersebut, rata-rata 60 persen telur dapat menetas dalam kurun waktu sekitar dua bulan, tergantung pada kondisi lingkungan dan keamanan sarang.

Sementara itu, untuk populasi penyu belimbing, YPI Simeulue masih dalam tahap pendataan. “Kami sudah memasang alat metal tag untuk kebutuhan pendataan. Namun, untuk jumlah populasi penyu belimbing, saat ini belum bisa dihitung secara akurat karena masih dalam proses,” jelasnya.

Estafan menegaskan, hingga saat ini tidak ditemukan kasus perburuan penyu di wilayah pendampingan. Namun demikian, pihaknya tetap mengingatkan masyarakat, khususnya nelayan, agar tidak memasang atau melepas jaring di kawasan konservasi penyu.

Ia menyebutkan, peristiwa penyu yang tersangkut jaring nelayan umumnya terjadi secara tidak sengaja. Meski demikian, kondisi tersebut tetap merugikan semua pihak.

Di Simeulue, terdapat empat spesies jenis penyu, yakni Belimbing yang sudah terancam punah, Hijau, Sisik dan Lekang. YPI mencatat ada 200 lebih sarang penyu pada musim 2025/ 2026.

“Penyu menjadi terancam, sementara nelayan juga rugi karena jaringnya bisa sobek. Selain itu, nelayan juga harus berhadapan dengan hukum karena penyu merupakan satwa yang dilindungi,” tegas Estafan.

Melalui pembinaan kelompok dan edukasi berkelanjutan, YPI Simeulue berharap kesadaran masyarakat untuk menjaga kawasan konservasi semakin meningkat, sehingga populasi penyu di Simeulue dapat terus terjaga dan berkembang secara alami.

By Admin 1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *