Banda Aceh (Meulabohnews) – Ketua Jaringan Gajah Nusantara (JGN) Fauzul Munandar, menilai rencana pemindahan tiga gajah dari TWA Holiday Resort ke Central Park Zoo & Resort sebaiknya tidak dilakukan. Ia menekankan bahwa TWA Holiday Resort memiliki karakter lingkungan semi liar yang lebih mendukung kehidupan gajah dibandingkan kebun binatang yang cenderung terbatas.

“Di sana (TWA Holiday Resort) alamnya lebih mendukung, makanannya alami, dan ruang geraknya lebih luas. Ini penting untuk menjaga kesehatan fisik dan psikologis gajah. Apalagi, mereka baru saja mulai membentuk stabilitas sosial,” ujarnya Nandar yang juga Ketua Forum Jurnalis Lingkungan Aceh, dalam siaran Pers, Jum’at 3 April 2026.

Isu rencana pemindahan tiga gajah yakni Sultan, Tanti, dan Aini, dari TWA Holiday Resort ke Central Park Zoo & Resort di media social kembali mencuat. Kabar pemindahan pertama kali ramai pada 18 Januari 2026, namun pengelola TWA Holiday Resort membantah isu tersebut dan menyebutnya sebagai hoaks.

Namun, awal April ini, isu yang sama kembali menguat, kali ini dengan “bukti” baru. Sebuah foto plang kandang gajah di Central Park Zoo & Resort di Pancur Batu, Deli Serdang, serta rekaman percakapan yang diduga melibatkan petugas kebun binatang.

Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara yang dikonfirmasi melalui melalui humasnya Kamis 2 April 2026, tetap menegaskan tidak ada rencana pemindahan. Pernyataan serupa juga datang dari salah satu mahout (pawang gajah) yang mengaku tidak mengetahui adanya agenda tersebut.

“Namun, beredarnya bukti visual dan rekaman percakapan membuat bantahan resmi terasa belum sepenuhnya menjawab keraguan. Isu ini bukan sekadar soal relokasi satwa, tetapi telah berkembang menjadi ujian transparansi pengelolaan konservasi,” tegas Nandar.

Di balik polemik ini, sosok Sultan menjadi pusat perhatian publik. Gajah jantan itu memiliki riwayat hidup yang tidak biasa. Ia lahir dalam kondisi rentan, tidak mampu menyusu pada induknya, dan harus bertahan hidup melalui perawatan intensif menggunakan susu botol.

Bahkan, sebuah bangku kayu sederhana digunakan agar ia bisa menjangkau puting induknya. Tak lama kemudian, induknya mati. Sejak kecil, Sultan telah mengalami kehilangan dan perpindahan berulang.
Sultan, sempat menemukan fase pemulihan saat berada di Barumun Nagari Wildlife Sanctuary, hidup bersama pengasuh dan kelompoknya. Namun, kondisi stabil itu kembali terganggu ketika ia dipisahkan.

“Kini, wacana pemindahan kembali mencuat. Bagi banyak pihak, ini bukan sekadar relokasi, melainkan potensi tekanan lanjutan bagi satwa yang memiliki rekam jejak trauma,” ujarnya lagi.

Kekhawatiran tersebut bukan tanpa dasar. Sejumlah kajian ilmiah menunjukkan bahwa gajah adalah satwa dengan ikatan sosial kompleks dan memori emosional jangka panjang. International Union for Conservation of Nature (IUCN) menegaskan bahwa stabilitas sosial merupakan faktor kunci dalam kesejahteraan gajah. Gangguan terhadap struktur sosial dapat memicu stres berkepanjangan dan berdampak pada kesehatan.

Sementara itu, World Association of Zoos and Aquariums (WAZA) menyatakan bahwa pemindahan satwa hanya dapat dibenarkan jika didasarkan pada kebutuhan konservasi yang jelas dan terukur bukan sekadar untuk tujuan display atau hiburan.

By Admin 2

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *