Pameran Foto “Prahara Pulau Emas” Jadi Media Edukasi dan Mitigasi Bencana

oleh -22 Dilihat
oleh

Menurut Amran, rangkaian dokumentasi yang ditampilkan dalam pameran tersebut memberikan pelajaran penting bahwa manusia harus menjaga hubungan dengan alam sebagaimana menjaga hubungan dengan sesama.

Banda Aceh (Meulabohnews) – Pameran foto Prahara Pulau Emas dinilai tidak sekadar menjadi ruang untuk menampilkan dokumentasi bencana, tetapi juga memiliki nilai penting sebagai media edukasi, mitigasi, serta membangun kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan.

Hal tersebut disampaikan Juru Bicara Satgas PRR sekaligus Direktur Kawasan, Perkotaan dan Batas Negara Kementerian Dalam Negeri, Dr. Drs. Amran, MT., dalam kegiatan penutupan pameran foto “Prahara Pulau Emas”, di Museum Tsunami, Aceh, Banda Aceh, Sabtu (8/8).

Menurut Amran, rangkaian dokumentasi yang ditampilkan dalam pameran tersebut memberikan pelajaran penting bahwa manusia harus menjaga hubungan dengan alam sebagaimana menjaga hubungan dengan sesama.

“Kita sadar bahwa lingkungan ini adalah sahabat kita. Seperti halnya manusia, kalau bersahabat kita harus saling menjaga. Kalau kita jaga alam, alam ini akan menjaga kita,” ujar Amran.

Ia mengatakan, bencana alam yang terjadi di Aceh dan sejumlah wilayah di Sumatera harus menjadi momentum untuk meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan.

Dokumentasi foto, kata dia, dapat membantu masyarakat memahami kondisi bencana secara lebih nyata.
Amran menyebut terdapat tiga pelajaran utama yang dapat diambil dari pameran tersebut.

Pertama, foto-foto bencana dapat menjadi bahan edukasi sekaligus mitigasi bagi masyarakat dan generasi mendatang.

Kedua, pameran tersebut dapat menciptakan kesadaran yang lebih kuat untuk menjaga lingkungan, termasuk hutan dan alam sekitar.

Ketiga, bencana juga dapat menumbuhkan kepedulian serta solidaritas masyarakat untuk saling membantu.

“Ini menjadi pembelajaran bagi masyarakat yang ada di Aceh, baik untuk generasi sekarang maupun generasi yang akan datang. Kalau kita tidak solid dan tidak bersatu untuk menjaga alam, serta tidak meningkatkan kepedulian, tentunya bencana-bencana yang akan datang bisa menjadi lebih berat,” katanya.

Amran juga menilai karya para pewarta foto memiliki nilai dokumentasi yang sangat besar. Melalui foto, masyarakat yang tidak berada langsung di lokasi bencana dapat melihat kondisi yang terjadi tanpa harus datang ke daerah terdampak.

“Banyak yang tidak tahu secara persis bagaimana kondisi pada saat kejadian bencana. Tetapi melalui foto, tidak perlu sampai ke Aceh, orang bisa mengetahui seperti apa kejadian bencana yang ada di Sumatera dan Aceh khususnya,” ujarnya.

Ia mencontohkan pengalamannya ketika melihat secara langsung dampak tsunami Aceh. Salah satu hal yang masih membekas dalam ingatannya adalah keberadaan kapal pembangkit listrik tenaga diesel yang terdorong hingga berada di tengah jalan dari kawasan pelabuhan.

“Kalau yang melihat sekarang mungkin seperti melihat sebuah museum. Tetapi berbeda kesannya ketika kita pertama kali melihat kejadian itu. Ada mobil di bawah yang terlindas kapal. Bagaimana kapal itu bisa berada di tengah jalan. Itu memberikan kesan yang luar biasa,” kata Amran.

Menurutnya, dokumentasi semacam itu menjadi arsip sejarah yang dapat terus mengingatkan masyarakat terhadap besarnya dampak bencana.

Ia mengatakan, foto-foto bencana juga memiliki fungsi penting untuk generasi mendatang. Sebab, kondisi fisik suatu daerah dapat berubah setelah proses rehabilitasi dan rekonstruksi selesai, sehingga jejak visual dari sebuah bencana berpotensi hilang.

“Sekarang kita masih fokus bagaimana rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana. Tetapi yang bisa menyisakan pembelajaran yang sangat berarti adalah foto-foto rekaman dari para pewarta foto Indonesia. Ini sebuah hal yang luar biasa dan nilainya sangat besar,” ujarnya.

Amran menegaskan, berakhirnya pameran selama enam hari tersebut bukan berarti berakhir pula proses penyebarluasan pesan yang terkandung di dalamnya.

Ia berharap karya-karya para pewarta foto dapat terus dipublikasikan melalui berbagai platform digital dan media sosial sehingga jangkauan edukasinya menjadi lebih luas.

“Ini bukan akhir, tetapi awal. Saya yakin yang menyaksikan selama enam hari pameran Prahara Pulau Emas akan lebih banyak pascapameran ini, karena foto-foto yang bagus dapat dipublikasikan secara digital,” katanya.

Amran juga mengapresiasi kerja para pewarta foto Indonesia yang telah merekam berbagai peristiwa bencana melalui kamera mereka. Menurutnya, foto bukan hanya karya jurnalistik untuk konsumsi saat ini, tetapi juga merupakan arsip penting bagi masa depan.

“Foto itu bukan hanya untuk sekarang, tetapi juga untuk pelajaran generasi mendatang. Ketika bangunan sudah direhabilitasi dan diperbaiki pascatsunami, mungkin tidak terlihat lagi pelajaran berharga di sana. Tetapi melalui foto, kita masih bisa melihat apa yang pernah terjadi,” ujarnya.

Ia berharap pesan yang disampaikan melalui pameran tersebut terus disosialisasikan kepada masyarakat sehingga dapat mendorong kesadaran untuk menjaga lingkungan, memperkuat kesiapsiagaan menghadapi bencana, serta meningkatkan solidaritas sosial.

“Insyaallah, ini akan menjadi pembelajaran bagi kita semua,” tutup Amran.[ril]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.